Setelah beberapa hari dipenuhi acara keluarga di Bogor, pada hari terakhir akhirnya berkesempatan berkeliling di sekitar Kebun Raya Bogor atas rekomendasi saudara. Kebetulan hotel saya cukup dekat, jadi dapat dijangkau dengan jalan kaki tanpa perlu kendaraan. Momen ini juga saya manfaatkan untuk melepas penat dari rutinitas sekolah sekaligus belajar dari lingkungan sekitar.
Sekitar pukul
05.00 setelah bangun dan salat Subuh, saya keluar hotel. Udara pagi di Bogor
langsung terasa berbeda, sejuk dan segar, bahkan sedikit mesusuk. Suasana masih
gelap dan tenang, belum terlalu ramai, hanya mulai terlihat akvitias warga yang
perlahan bangun memulai hari. Saat itu saudara-saudara saya sebenarnya
berencana untuk lari mengelilingi area Kebun Raya Bogor yang memang terkenal
sebagai spot favorit pelari. Tapi saya dan mama memilih jalan kaki saja, lebih santai,
dan jujur saja memang tidak kuat untuk ikut lari, wkwkwkwk.
Di awal perjalanan saya berjumpa dengan Tugu Kujang Bogor. Tugu ini merupakan ikon kota dengan bentuk kujang, senjata tradisional Jawa Barat. Jika pertama kali datang ke Bogor, tempat ini hampir pasti terlihat karena letaknya strategis dekat pintu keluar tol dan menghadap ke arah pusat kota. Diseberangnya juga ada Botani Square yang menjadi pusat perbelanjaan.
Saat itu matahari baru terbit, langit perlahan berubah warna menjadi kemerahan keunguan, dan saya pun turut mengabadikan keindahannya. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalanan kota. Jalurnya cukup nyaman karena sudah tersedia trotoar untuk pejalan kaki dan jalur pesepeda yang tertata. Walaupun begitu, jalan menurun membuat kaki mulai terasa sedikit pegal.
Tidak lama kemudian, saya melewati Jembatan Otista yang berada di atas Sungai Ciliwung. Nama jembatan ini merupakan akronim dari pahlawan nasional Otto Iskandar Dinata. Jembatan Otista sudah ada sejak masa kolonial Belanda dan sekarang sudah diperbarui agar lebih lebar dan nyaman. Dari atas jembatan, aliran Sungai Ciliwung terlihat membentang membelah kota.
Perjalan berlanjut menuju
Kawasan Jalan Surya Kencana yang dikenal sebagai pusat kuliner dan Kawasan
pecinan sejak masa kolonial. Hingga sekarang suasananya masih terasa khas
dengan bangunan-bangunan yang berdiri di sepanjang jalan. Di seberangnya terdapat
pintu masuk utama Kebun Raya Bogor, namun karena masih terlalu pagi, pintu
masuk belum dibuka dan belum ada pengunjung yang masuk.
Setelah melewati kawasan tersebut, saya mulai melihat deretan bangunan modern seperti hotel dan restoran. Di tengah Kawasan itu juga terdapat Museum Sejarah Alam Indonesia yang berkembang dari Museum Etnobotani. Museum ini menampilkan keanekaragaman hayati, evolusi, dan hubungan manusia dengan alam, sehingga cukup menarik untuk dikunjungi terutama bagi yang suka Biolog.
Perjalanan kemudian melewati Balai Besar Perpustakaan dan Literasi
Pertanian, salah satu pusat informasi di bidang pertanian yang sudah lama
berdiri. Dari sini saya mulai merasa bahwa Bogor memang dikenal sebagai kota
penelitian, terutama di bidang rumpun hayati. Di sekitar Kawasan ini juga
terdapat beberapa kantor penting seperti Samsat, Kejaksaan, dan kantor
pemerintahan daerah.
Di tengah perjalanan, saya melewati SMAN 1 Bogor. Saat itu suasana sekolah sudah mulai ramai karena hari Senin. Saya sempat berpikir teman-teman sedang upacara, sementara saya justru sedang berjalan-jalan di kota. Walaupun begitu, saya tetap menyempatkan diri menonton live upacara hari Senin lo.
Tidak jauh dari sana, terdapat Gereja Santa Perawan Maria Bogor bergaya katedral yang merupakan salah satu gereja tua di Bogor. Di Dekatnya juga terdapat Museum Balai Kirti yang merupakan museum kepresidenan. Nama Balai Kirti sendiri berarti ruang penyimpanan kemahsyuran sejarah, dan museum ini menampilkan sejarah perjalanan para presiden Indonesia dan koleksinya.
Perjalanan kemudian menuju Titik Nol Kilometer Bogor yang berada di dekat Balai Kota Bogor. Titik ini merupakan penanda pusat pengukuran jarak dari dan ke Kota Bogor. Balai Kota Bogor sendiri merupakan bangunan bergaya kolonial yang dulu digunakan sebagai tempat pertemuan sosialita pada masa Hindia Belanda, dan kini difungsikan sebagai Kantor Wali Kota. Di sekitarnya juga terdapat Hotel Salak The Heritage Bogor yang masih mempertahankan gaya arsitektur klasik.
Selanjutnya, saya melihat
gerbang utama Istana Bogor dari kejauhan. Gerbangnya besar, berwarna gelap, dan
dijaga ketat oleh aparat. Dari sela pagar, saya sempat melihat
beberapa rusa yang berjalan santai di halaman istana. Rasanya cukup berkesan
bisa melihat langsung salah satu istana kepresidenan Indonesia dari luar.
Setelah itu, suasana mulai berubah menjadi lebih asri karena banyak pepohonan rindang di sekitar kawasan Kebun Raya Bogor. Udara terasa semakin sejuk dan nyaman. Saya juga melewati Jembatan Sempur serta kawasan Taman Sempur yang cukup ramai oleh aktivitas warga, terutama yang berolahraga pagi.
Di sekitar kawasan tersebut, saya melihat bangunan bergaya kolonial seperti rumah dinas, vila, dan kafe yang terlihat nyaman. Namun, rasa lelah mulai terasa cukup kuat, kaki sudah mulai pegal meskipun udara masih sejuk. Di antara bangunan tersebut terdapat kantor Badan Pertanahan Nasional Kota Bogor yang bentuknya cukup menarik dengan dominasi warna putih dan kubah kecil bergaya Yunani.
Akhirnya, setelah berjalan sekitar 4 kilometer, saya kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, saya langsung sarapan untuk mengisi energi, lalu mandi dan bersiap-siap. Kaki memang terasa lelah, tetapi pengalaman yang didapat terasa sepadan, karena setiap sudut kota punya cerita tersendiri.
Setelah bersiap-siap, saya melanjutkan perjalanan ke
dalam Kebun Raya Bogor. Jika bagian luarnya saja sudah menarik, saya merasa
bagian dalamnya pasti akan memberikan pengalaman yang lebih berkesan lagi. Kali
ini saya ingin benar-benar menikmati keindahan alamnya secara lebih dekat dan
langsung.


Komentar
Posting Komentar