Seragam Sekolah Unik dari Ecoprint

Ada pemandangan menarik setiap hari Kamis di SMA Negeri 1 Trenggalek. Para siswa tampak percaya diri mengenakan seragam bermotif dedaunan yang unik dan estetik. Menariknya, seragam tersebut bukan produk pabrik atau hasil pembelian di toko, melainkan karya tangan mereka sendiri yang dibuat sejak kelas X melalui kegiatan kokurikuler ecoprint.
 
Ecoprint merupakan teknik mencetak motif pada kain menggunakan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan. Pigmen warna berasal dari bagian tumbuhan seperti daun, bunga, dan batang. Dalam praktik di sekolah, daun yang digunakan adalah daun jati dan daun kersen yang mudah ditemukan di Kabupaten Trenggalek. Teknik yang diterapkan adalah steaming atau pengukusan

Sebelum masuk ke tahap pembuatan, kami harus menyiapkan alat dan bahan yang cukup banyak. Mulai dari menyiapkan kain mori putih polos sesuai dengan ukuran seragam yang akan dikenakan. Selanjutnya, daun jati dan daun kersen sebagai bahan utama untuk motif ecoprint. Tidak kalah penting ada berbagai bahan kimia dan pelarut seperti Soda ASH (Sodium karbonat), TRO (Tannin Reagent Oxidizer), air bersih, Trawas bubuk, Tunjung bubuk, Sodium Asetat bubuk, dan Kalsium Karbonat (CaCO₃). 

Begitu pula alat-alat seperti pengaduk kayu, kompor gas, dandang penguku, tabung gas, selang shower, selotip, lakban hitam, tali rafia, dan pipa besi. Semua bahan dan alat ini akan digunakan sesuai dengan tahapan pembuatan ecoprint.

Membuat seragam ecoprint ternyata butuh kesabaran ekstra. Prosesnya tidak instan, melainkan melalui lima tahapan yang cukup menantang:

1. Tahap Scouring
Diawali dengan scouring yang bertujuan untuk menghilangkan zat kimia sisa produksi kain. Soda ASH 1 sdm sebagai pengatur pH agar kain lebih mudah menyerap pigmen dan TRO 1 sdm untuk mengikat pigmen pada kain agar warnanya awet. Bahan-bahan kimia tersebut dimasukkan dalam ember berisi 3 liter air yang sudah dipanaskan. 

Kemudian aduk hingga larut. Selanjutnya rendam kain dalam ember tertutup selama semalam. Setelah terendam semalaman angkat kain dari ember, kemudian dibilas dengan air bersih mengali dan jemur kain hingga kering.

2. Tahap Mordant
Tahap berikutnya adalah mordant dengan tujuan membuka serat kain agar dapat menerima warna. Bahan-bahan yang diperlukan adalah Air panas mendidih 2 liter, 150 gram Trawas, tunjung bubuk halus sebanyak 15-20 gram, dan 150 gram sodium Asetat bubuk. Bahan-bahan ini dimasukkan kedalam ember secara berurutan. Aduk rata semua bahan hingga larut. Kemudian masukkan kain sampai terendam semuanya. Lalu diamkan selama 2 jam dan setelahnya jemur sampai kering.

3. Tahap Fiksasi
Fiksasi bertujuan untuk mengunci pigmen warna agar tidak mudah luntur. Setelah kain mordant kering, rendam kedalam larutan Kalsium Karbonat sebanyak 1 sdm kedalam 3 liter air selama 5 menit, sambil diremas-remas. Kemudian bilas kain dengan air mengalir. Supaya kain tidak terlalu basah, keringkan kain dengan mengkibas-kibas (treatment). Setelah itu kain siap untuk pencetakan motif.

4. Tahap Cetak Daun
Tahapan kemudian adalah cetak daun. Dimulai dengan meletakkan kain utama yang telah di treatment di atas plastik molsa. Bagi kain dalam dua sisi, sisi petama untuk penataan daun dan sisi kedua untuk menutup permukaan kain yang ditata daun. Pada sisi pertama daun ditata sesuai kreativitas. 

Alhamdulillah, di tahap ini teman-teman benar-benar suportif dan saling bantu-membantu untuk mengatur posisi daun supaya komposisinya terlihat pas dan seimbang. Tidak berhenti di situ, setelah semua rapi dan ditutup kembali dengan plastik molsa, kami juga kompak saling membantu saat proses menginjak-injak plastik agar daun-daun pada kain meresap. 

5. Tahap Menggulung dan Mengukus
Sekarang saatnya gulung plastik molsa dengan selongsong gas dan pipa besi. Setelah digulung diikat dengan tali rafia secara kencang. Kemudian diberi solasi dengan kuat dalam bentuk melingkar seperti gulungan sehingga pipa besinya perlu dilepas. 

Selanjutnya masukkan gulungan tersebut ke dalam kukusan yang panas dan dikukus selama 2 jam. Setelah itu, perjuangan sebenarnya adalah menunggu proses pengukusan selama 2 jam. Kami bahkan harus menunggu pengukusan di sekolah sampai sore hari. Akhirnya setelah 2 jam, hasil pengukusan dapat dibuka dan kain ecoprint siap dijahit menjadi seragam.
    
Melalui ecoprint, kita diajak mengeksplorasi kekayaan alam Trenggalek sekaligus belajar bertanggung jawab atas karya yang akan kita pakai sendiri selama tiga tahun ke depan. Prosesnya membentuk kreativitas, kolaborasi, dan kemandirian, menghasilkan karya yang indah dan bermakna.


Foto Bersama Kelas X-C dengan seragam Ecoprint

Komentar