Kreasi Batik Cirangga Snesa

Setiap tanggal 2 Oktober 2024, di Indonesia diperingati sebagai hari batik nasional. Tanggal ini mengacu pada tanggal penetapan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO. Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan identitas masyarakatnya.

Batik adalah seni menggambar atau menulis diatas kain dengan menggunakan lilin (malam) untuk membentuk sebuah motif dan kemudian diwarnai dengan pewarna alami atau sistentis. Indonesia memiliki beragam jenis batik dengan motif dan makna yang unik diberbagai daerah. Setiap daerah memiliki motif dan teknik yang berbeda.

Batik Cirangga adalah kain batik yang menggabungkan kearifan lokal masyarakat dengan inovasi, sehingga terciptalah karya seni yang unik dan menarik. Batik cirangga ini diciptakan oleh siswa siswi SMP Negeri 1 Trenggalek. Nama batik Crangga berasal dari gabungan kata CIRANG (yang merujuk pada nama bunga cirang) dan TRENGGALEK sebagai daerah asalnya. "Cirangga" bermakna batik cirang Trenggalek.

Desain rancangan batik yang dihasilkan menggunakan motif alam dari bunga cirang. Bunga cirang atau kecombrang adalah sejenis tumbuhan rempah tahunan yang bunga, buah, serta bijinya dimanfaatkan sebagai bahan sayuran. Bunga Cirang dikenal dengan bentuknya yang khas dan aroma yang segar. Bunga cirang ini banyak tumbuh dan akrab dengan masyarakat Trenggalek bagian selatan.

Proses pembuatan Batik Cirangga Snesa menggunakan teknik batik colet/canting. Berikut adalah langkah-langkah dalam proses pembuatannya:

1.   Langkah pertama adalah merancang motif batik yang akan digunakan. Siswa dan siswi mengambil inspirasi dari linkungan setempat.

2.   Selanjutnya siswa dan siswi mempersipakan Kain yang akan digunakan proses batik. Pemilihan kain yang tepat sangat penting untuk memastikan kualitas kain yang baik.

3.  Kemudian siswa dan siswi Menggunakan alat yang disebut canting atau alat colet, lilin panas (malam) diterapkan pada kain. Teknik colet ini memberikan kebebasan untuk menciptakan pola yang lebih bebas dan unik.

4.  Setelah lilin diaplikasikan, kain dicelupkan ke dalam pewarna. Proses ini dapat dilakukan berulang kali untuk menciptakan gradasi warna yang menarik.

5.  Setelah pewarnaan selesai, kain direbus untuk menghilangkan lilin, sehingga pola yang telah dibuat terlihat jelas.

6.  Langkah terakhir adalah kain dicuci dan disetrika agar tampil rapi. Setelah itu kain batik siap untuk digunakan atau dipasarkan


Pemasaran produk batik cirangga snesa dilakukan melalui MOU inovasi SMP Negeri 1 Trenggalek dengan berbagai pihak terkait, yaitu: toko sinar seragam, pengrajin batik sidomulyo, koperasi sekolah, dan toko baju rosida collection. Kerjasama ini bertujuan untuk mempromosikan Batik Cirangga ke pasar yang lebih luas. 

Produk Batik Cirangga merupakan contoh perpaduan antara inovasi dan pelestarian kearifan lokal yang dapat berjalan seiring. Tidak hanya sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal, juga sebagai upaya mengembangkan potensi ekonomi kreatif dan mengajarkan siswa siswi tentang praktik berwirausaha dengan inovasi produk.

 


Komentar